Lima tahun lamanya
mengenal engkau, mungkin bukan waktu yang cukup singkat untuk sebagian orang
lain. Tiga tahun menjalin asrama, lalui lika - liku layaknya seorang anak muda
yang dilanda kasmaran pada umumnya di era Globalisasi ini. Gunjingan tak bertuan
seolah angin ribut di musim kemarau yang lambat laun menghilang dengan
sendirinya sesuai dengan musim yang terus berganti setiap tahun. Atas dasar
cinta yang menyelimuti hati kita membuat teguh pendirian untuk tetap melangkah
ke arah depan tanpa menghiraukan gunjingan orang-orang dari segala arah yang
selalu saja menghadang, batu kerikil yang menerjang seolah bukan tandingan kita
lagi, bahkan badai angin yang begitu hebat hampir saja kita bisa lalui bersama
walaupun terkadang hati ini mulai goyah oleh tiupan angin yang begitu hebatnya.
Bermulai dari sebuah kisah pilu dan memalukan terjadi pada saat masa keluarga
kita, tepatnya kegagalan perjodohan antara salah satu keluarga kita yang
terdahulu membuat luka yang mendalam bahkan sampai ke dalam ingatan yang tidak
akan pernah terlupakan oleh keluarga besar kita, dan kita sebagai penerus
keluarga besarnya mendapat imbas yang sangat-sangat begitu besar. Entah apa
salah kita sehingga kita yang harus mengemban semuanya. Cinta kita yang tidak
pernah direstui oleh keluarga mejadikan sebuah penghalang bagaikan tembok yang
begitu besar tanpa celah, tanpa retakan, sehingga begitu sempurnya untuk kita
lalui bersama. Telah berbagai cara untuk kita pecahkan sedikit demi sedikit
tembok besar itu, namun tak setidikpun retakan yang kami lihat. Hari demi hari kita lalui tanpa memikirkan
sebuah masalah besar yang sebenarnya selalu ada dalam ingatan, selalu saja
terlintas dalam benak pikiran setiap detik, setiap menit, bahkan kadang sampai
terbawa kedalam mimpi malam yang selalui menghiasi. Hidup diantara dua pilihan
adalaha sebuah tantangan yang sangat besar, memilih kekasih atau keluarga
tercinta, mungkin ini adalah sebuah pilihan yang tidak semua orang akan bisa
melaluinya. Dalam satu sisi andaikan memilih keluarga, kita takut menyakiti
hati kita masing-masing, namun memilih kekasih adalah sebuah keputusan yang
sama beratnya, karena keluarga adalah segala-galanya dalam kehidupan, begitu
pula artinya dengan seorang kekasih yang telah menemani selama tiga tahun.
Berat rasanya melupakan canda, tawa, sedih, pilu, senang, yang selalu menghiasi
tak rela kami lupakan begitu saja.
Pemilihan
umum adalah proses substansial dalam penyegaran suatu pemerintahan. Andrew
Reynolds menyatakan bahwa Pemilihan Umum adalah metode yang di dalamnya
suara-suara yang diperoleh dalam pemilihan diterjemahkan menjadi kursi-kursi
yang dimenangkan dalam parlemen oleh partai-partai dan para kandidat. Pemilihan
umum merupakan sarana penting untuk memilih wakil-wakil rakyat yang benar-benar akan bekerja mewakili mereka dalam
proses pembuatan kebijakan negara. Di negara demokrasi pemilu adalah keniscayaan. Yang
menjadi syarat minimum bagi suatu negara jika ingin dikatakan sebagai negara
demokrasi. Dengan catatan, pemilu yang dilandasi prinsip “Luber” dan “Jurdil”.
Berkompetisi politik secara sehat. Mengedepankan nilai-nilai kejujuran. Dan
membuang jauh faham federalisme dan egoisme golongan yang hanya berbuntut pada
aksi-aksi pengrusakan terhadap nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Seraya
mengutip pendapat Soekarno, “Dengan terbitnya matahari kebangsaan Indonesia
yang bulat dan bersatu, hilanglah hak sejarah bagi ide provinsialisme, ide
insularisme, dan ide federalisme. Maka barangsiapa sekarang ini membangkitkan
kembali ide-ide tersebut, ia seperti orang yang menggali kubur dan mencoba
menghidupkan kembali tulang orang-orang yang dikubur berpuluh-puluh tahun yang
lampau”.
Jika saya menyaksikan sendiri dengan mata
kepala saya, pemilu yang didambakan menjadi sebuah acuan atau wadah rakyat
untuk menyampaikan aspirasinya belum terlaksana dengan sempurna, karna apa,
masih banyaknya PESTA DEMOKRASI ini diwarnai dengan money politic, dan ditambah
lagi masih banyak masyrakat yang belum mengerti apa itu PEMILU, karena mereka
senang sekali jika pada saat acara pemilu, akan banyak uang yang mereka terima,
jadi barang siapa yang memberikan uang lebih, maka itu yang akan dipilih, ini
membuktikan bahwa tidak semua rakyat indonesia mengerti apa itu demokrasi, apa
itu pemilu. Apalagi ditambah banyaknya orang-orang kaya yang ingin berkuasa,
mereka merelakan mengeluarkan banyak uang hanya untuk mendapatkan jabatan di
pemerintahan, dan rakyat2 yang bodoh dijadikan sebagai sasaran empuk otak licik
mereka. Contoh lain adalah, saat pemilukada pemilihan gubernur di tangerang
selatan, masa calon gubernur yang sudah ketahuan bahwa dirinya melakukan
kecurangan dan mahkamah konstitusi sudah membenarkan bahwa dirinya bersalah,
namun pada saat pemilu putaran kedua, dirinya masih tetap menang, ini
membuktikan bahwa kualitas masyrakatnya masih dibawah rata-rata.
Kesimpulannya adalah, prinsip dan konsep PEMILU
dalam negara DEMOKRASI yang terjadi di indonesia ini masih sangat jauh dari
harapan orang-orang banyak, karna apa, Pemilihan umum
merupakan sarana penting untuk memilih wakil-wakil
rakyat yang benar-benar akan bekerja mewakili mereka dalam proses pembuatan
kebijakan negara. Apa iya itu
terjadi, saya rasa masih banyak di daerah daerah yang para wakil-wakil rakyat
ini hanya mementingkan kepentingan pribadinya bukan untuk mewakili kepentingan
rakyat yang telah memilih dirinya untuk menjadi wakil rakyat yang duduk di
kursi pemrintahan
Heningkan setiap
langkah kakimu
Tutuplah hidungmu
Butakanlah matamu
Tulikanlah telingamu
Kala badai menerpa
Kala rintangan melanda
Enyahlah gunjingan
mereka
Jadikan api membara
dalam jiwa
Jauh jalan yang telah
kita lalui
Kecil kerikil selalu
menghadang
Lautan berduri seakan
teman di senja hari
Bau amis hiasi kala
duka menerajang
Satukan jiwa yang
membara
Dalam keheningan malam
Kebisingan gurawan tak
bertuan
Langkahkan kaki kita
dengan diam.
Hujan basahi bumi
Basahi hati yang
kering kerontang ini
Rindu semakin dalam
melanda
Sedalam lautan
mengarungi samudera
Gunung nan tinggi,
samudera nan dalam tak goyahkan hati
Lelah menanti dalam
kegelapan malam
Terbit fajat hingga terbenam
kan ku nanti
Ingin rasanya berjumpa
Rindu yang makin tak
terhingga
Gelisah menanti waktu
Kapan engkau kembali
Rindu bak gunung
tertinggi
Hilang seketika
Berjumpa engkau
didalam mimpi
berjalanlah hanya dengan diam,
heningkan suara mu
kuncilah telinga mu
butakanlah mata mu
saat badai menerpa
saat rintangan melanda
walaupun seolah tak terhingga
yakinlah, kita diam tak bersuara
biarkanlah angin lalu tak bertuan
menjadi api membara dalam hati
dengan diam kita langkahkan kaki kita dengan pasti
Pemerintah dan
pemerintahan mempunyai pengertian yang berbeda. Pemerintah merujuk kepada
organ atau alat perlengkapan, sedangkan pemerintahan menunjukkan bidang
tugas atau fungsi. Dalam arti sempit pemerintah hanyalah lembaga eksekutif
saja. Sedangkan dalam arti luas, pemerintah mencakup aparatur negara yang
meliputi semua organ-organ, badan-badan atau lembaga-lembaga, alat perlengkapan
negara yang melaksanakan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan negara. Dengan
demikian pemerintah dalam arti luas adalah semua lembaga negara yang
terdiri dari lembaga-lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Dalam arti sempit pemerintahan adalah
segala kegiatan, fungsi, tugas dan kewajiban yang dijalankan oleh lembaga
eksekutif untuk mencapai tujuan negara. Pemerintahan dalam arti luas adalah
segala kegiatan yang terorganisir yang bersumber pada kedaulatan dan
kemerdekaan, berlandaskan pada dasar negara, rakyat atau penduduk dan wilayah
negara itu demi tercapainya tujuan negara. Di samping itu dari segi struktural
fungsional pemerintahan dapat didefinisikan pula sebagai suatu sistem struktur
dan organisasi dari berbagai macam fungsi yang dilaksanakan atas dasar-dasar
tertentu untuk mewujudkan tujuan negara. (Haryanto dkk, 1997 : 2-3).
Namun realita yang
sering kita dengar dan saksikan di Indonesia tercinta ini adalah, tidak sesuai
dengan konsep pemerintah dan pemerintahan. Dijelaskan bahwa pemerintahan adalah
segala sesuatu yang berlandaskan pada dasar negara, rakyat dan penduduk, namun
apakah yang terjadi, pemerintahan yg diharapkan tidak sesuai karena jika
berlandaskan kepada dasar negara mengapa para pemerintah itu melakukan tindak
korupsi, mengapa para aparatur pemerintahan menyelewengkan tanggung jawab
mereka sebagai penjembatan aspirasi rakyat. Bagaimana masyarakat ini mau maju
ataupun masyarakt ini percaya kepada pemerintahan jika realita yg disajikan
setiap hari di layar tv, koran-koran, dan media massa lainnya, hanya sekitar
uang negara dan uang rakyat yg hilang. Lalu apakah fungsi pemerintah itu sudah
tepat ? difungsikan bahwa pemerintah itu adalah sebuah lembaga eksekusi, namun
yang kita terima adalah eksekusi dalam konteks apa? Lembaga DPR, MPR, merancang
undang-undang, peraturan baru dan segala macamnya, mereka menyediakan tempat
aspirasi rakyat atau hanya ingin mendapatkan upah setelah duduk berleha-leha di
sidang paripurna, lalu pulang ke rumah dan rekening pun akan bertambah, apa itu
sbenarnya fungsi pemerintah? Sungguh sangat riskan melihat bumi pertiwi
indonesia tercinta ini.
Yang dapat saya
simpulkan adalah, konsep pemerintah dan pemerintahan di indonesia ini masih
sangat jauh dari harapan kita semua, konsep yang awalnya mempunyai tujuan untuk
mewujudkan tujuan negara beralih menjadi mewujudkan kepentingan kantong
pribadi, demi kekuasaan, kekayaan, dan dalam hal yang pribadi. Sehingga
menciptakan negara indonesia yang kita rasakan seperti ini. Dahulu orang bangga
menjadi seorang pegawai pemerintahan, namun sekarang malu menjadai pegawai
pemerintahan, karna sekarang yg kita saksikan adalah yang paling banyak
menghilangkan uang negara adalah pegawai pemerintahan tersebut, ini sebuah
image yang sangat buruk sekali. Seharusnya kita sadar bahwa tujuan pemerintah
dan pemerintahan itu adalah untuk MEWUJUDKAN TUJUAN NEGARA .
Menurut
Mac Iver, partai politik adalah “suatu kumpulan terorganisasi untuk menyokong
suatu prinsip atau kebijaksanaan (policy) yang oleh perkumpulan itu diusahakan dengan
cara-cara sesuai dengan konstitusi atau Undang-undang agar menjadi penentu cara
melakukan pemerintahan”. Prof. Miriam Budiardjo sendiri dalam bukunya “Dasar-Dasar Ilmu Politik”
menyebutkan beberapa fungsi dari partai politik: Pertama adalah partai politik sebagai sarana komunikasi
politik atau sebagai sarana artikulasi kepentingan rakyat. Dalam sebuah
negara, setiap warga negara tentu mempunyai pendapat dan aspirasi yan
berbeda-beda. Hal itu tentu akan menyulitkan ketika setiap orang ingin didengar
aspirasinya. Partai politik berperan sebagai penampung dan penggabung pendapat
dari setiap warga negara tersebut (interest aggregation). Kemudian
aspirasi-aspirasi tersebut dirumuskan menjadi bentuk yang lebih teratur
(interest articulation) dan diterapkan oleh partai ke dalam program partai.
Program-program tersebut yang kemudian diperjuangkan oleh partai politik di
level pemerintahan untuk diaplikasikan ke dalam kebijakan publik.
Jika kita melihat realitas yang kita saksikan
dengan mata kita, di layar televisi, di koran-koran, di bumi pertiwi indonesia
tercinta ini, apa iya partai politik sebagai sarana komunikasi politik untuk
kepentingan rakyat? Atau para elit politik di indonesia ini hanya sebagai
jembatan untuk mendapatkan kekuasaan, serta ingin GILA HORMAT? Maraknya kasus
Nazarudin, Angelina Sondakh, lalu masih banyak yang lain, ini membuktikan bahwa
Prinsip, sistem Partai politik yang sebenarnya sangat bagus untuk mendukung
pemerintahan malah di selewengkan oleh para pelaku elit politik. Mana yang katanya
masa REFORMASI sebagai penegak dari Demokrasi? Apa iya ini yang sebenarnya
diinginkan oleh masyarakat luas di Indonesia. Lalu contohnya lagi tentang
partai koalisi yang malah menentang pemerintahan? Apakah mereka ini dibekali
oleh suatu kemampuan yang kompenten? Atau mereka ini hanya preman-preman yang
ingin kekuasaan. Program-program yang telah kalian buaat, apakah itu hanya
sebuah goresan tinta di atas kertas putih? Sungguh riskan melihat wayang-wayang
politik di Indonesia ini, yang katanya sebagai aspirasi rakyat. Hey bung, kami
tidak bodoh lagi melihat anda.
Yang dapat saya simpulkan adalah, sebenarnya kegagalan fungsi partai politik tersebut bukanlah suatu hal
yang jarang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Indonesia masih
mengalami masa transisi dari beberapa sistem politik untuk mencapai sistem yang
stabil. Namun apabila partai politik gagal menjaga tugas dan fungsinya dengan
baik, maka masa transisi tersebut hanya akan diwarnai oleh ketidakstabilan di
bidang politik yang kemudian berimbas pada bidang sosial dan ekonomi. Secara
sederhana rakyat akan melihat partai politik gagal dalam mengemban amanat
rakyat dan hal itu akan menyebabkan rakyat menjadi apatis terhadap partai
politik. Dampaknya adalah partisipasi rakyat dalam politik akan menurun tajam, dan mungkin saja kalau seperti ini terus,
saat pemilihan gubernur, presiden dan sebagainya, masyarakat indonesia ini
tidak akan memilih kalian, karna sungguh sangat kecewa kami dengan WAJAH ELIT
POLITIK indonesia ini.
