Lima tahun lamanya
mengenal engkau, mungkin bukan waktu yang cukup singkat untuk sebagian orang
lain. Tiga tahun menjalin asrama, lalui lika - liku layaknya seorang anak muda
yang dilanda kasmaran pada umumnya di era Globalisasi ini. Gunjingan tak bertuan
seolah angin ribut di musim kemarau yang lambat laun menghilang dengan
sendirinya sesuai dengan musim yang terus berganti setiap tahun. Atas dasar
cinta yang menyelimuti hati kita membuat teguh pendirian untuk tetap melangkah
ke arah depan tanpa menghiraukan gunjingan orang-orang dari segala arah yang
selalu saja menghadang, batu kerikil yang menerjang seolah bukan tandingan kita
lagi, bahkan badai angin yang begitu hebat hampir saja kita bisa lalui bersama
walaupun terkadang hati ini mulai goyah oleh tiupan angin yang begitu hebatnya.
Bermulai dari sebuah kisah pilu dan memalukan terjadi pada saat masa keluarga
kita, tepatnya kegagalan perjodohan antara salah satu keluarga kita yang
terdahulu membuat luka yang mendalam bahkan sampai ke dalam ingatan yang tidak
akan pernah terlupakan oleh keluarga besar kita, dan kita sebagai penerus
keluarga besarnya mendapat imbas yang sangat-sangat begitu besar. Entah apa
salah kita sehingga kita yang harus mengemban semuanya. Cinta kita yang tidak
pernah direstui oleh keluarga mejadikan sebuah penghalang bagaikan tembok yang
begitu besar tanpa celah, tanpa retakan, sehingga begitu sempurnya untuk kita
lalui bersama. Telah berbagai cara untuk kita pecahkan sedikit demi sedikit
tembok besar itu, namun tak setidikpun retakan yang kami lihat. Hari demi hari kita lalui tanpa memikirkan
sebuah masalah besar yang sebenarnya selalu ada dalam ingatan, selalu saja
terlintas dalam benak pikiran setiap detik, setiap menit, bahkan kadang sampai
terbawa kedalam mimpi malam yang selalui menghiasi. Hidup diantara dua pilihan
adalaha sebuah tantangan yang sangat besar, memilih kekasih atau keluarga
tercinta, mungkin ini adalah sebuah pilihan yang tidak semua orang akan bisa
melaluinya. Dalam satu sisi andaikan memilih keluarga, kita takut menyakiti
hati kita masing-masing, namun memilih kekasih adalah sebuah keputusan yang
sama beratnya, karena keluarga adalah segala-galanya dalam kehidupan, begitu
pula artinya dengan seorang kekasih yang telah menemani selama tiga tahun.
Berat rasanya melupakan canda, tawa, sedih, pilu, senang, yang selalu menghiasi
tak rela kami lupakan begitu saja.
Heningkan setiap
langkah kakimu
Tutuplah hidungmu
Butakanlah matamu
Tulikanlah telingamu
Kala badai menerpa
Kala rintangan melanda
Enyahlah gunjingan
mereka
Jadikan api membara
dalam jiwa
Jauh jalan yang telah
kita lalui
Kecil kerikil selalu
menghadang
Lautan berduri seakan
teman di senja hari
Bau amis hiasi kala
duka menerajang
Satukan jiwa yang
membara
Dalam keheningan malam
Kebisingan gurawan tak
bertuan
Langkahkan kaki kita
dengan diam.
Hujan basahi bumi
Basahi hati yang
kering kerontang ini
Rindu semakin dalam
melanda
Sedalam lautan
mengarungi samudera
Gunung nan tinggi,
samudera nan dalam tak goyahkan hati
Lelah menanti dalam
kegelapan malam
Terbit fajat hingga terbenam
kan ku nanti
Ingin rasanya berjumpa
Rindu yang makin tak
terhingga
Gelisah menanti waktu
Kapan engkau kembali
Rindu bak gunung
tertinggi
Hilang seketika
Berjumpa engkau
didalam mimpi
